8 May
KALAU kita membaca purana-purana mengenai tanah Bali, maka kita mendapatkan gambaran tentang tanah Bali yang begitu asri. Pantai, sungai, tebing dan hutan yang demikian mempesona. Di situlah para leluhur Bali mendirikan tempat suci.
Begitu kaya alam Bali. Berbagai tanaman ada. Kekayaan alam inilah yang dipersembahkan dalam ritual keagamaan di pura. Konsep leluhur orang Bali di masa lalu adalah tempat suci di Bali harus didukung oleh alam indah dan sarana persembahyangan yang datang dari alam Bali sendiri. Kalau mau dikatakan dengan bahasa sekarang yang lebih modern, persembahkanlah hasil kekayaan alam sekitar dalam setiap pemujaan.
Sayangnya, kini manusia Bali sudah berubah, melupakan warisan leluhurnya dan sudah menyimpang jauh dari purana yang ada. Janur (busung) sudah datang dari Banyuwangi dan Situbondo, demikian pula bunga, ayam, itik dan telur. Buah bertruk-truk datang dari luar Bali termasuk dari luar negeri seperti Amerika, Cina, Thailand dan sebagainya. Sotong, juwet, belimbing, jeruk Bali, sudah kalah gengsi dengan buah peer dari Cina, apel dari Amerika dan sebagainya.
Padahal, tanaman khas Bali yang dipelihara para leluhur orang Bali di masa lalu, bukan saja untuk persembahan di pura kalau ada upacara, juga untuk sarana mengobati orang sakit. Antara tanaman yang tumbuh di tanah Bali dan penyakit yang diderita orang Bali, klop. Keahlian orang Bali dalam meracik hasil-hasil alam ini memunculkan apa yang disebut dengan Usada Bali, sebuah ilmu pengobatan penyakit dari bahan alam. Memang, ilmu semacam ini bukan hanya ada di Bali, di berbagai belahan bumi juga ada. Tetapi yang pasti, ilmu ini (Usada Bali) jauh lebih cepat merosot dibandingkan yang dipraktikkan di India maupun Cina. Bahkan dunia kedokteran modern sudah mengakui keunggulan ini sehingga banyak obat-obatan dan suplemen kesehatan yang memakai racikan dari alam. Herbal, begitulah istilah populernya.
11 Oct
Tuhan dalam Mantra Weda XXXII.3, dinyatakan tidak punya bentuk dan nama. Para vipra atau orang-orang bijak dan sucilah yang menyebutnya dengan banyak sebutan. Hal itu untuk memudahkan umat dalam menguatkan hidupnya untuk suatu tujuan mulia. Demikian juga umat awam pun akan menyebutkan berbagai kemahakuasaan Tuhan itu dengan berbagai sebutan sesuai dengan kemantapan hati nuraninya. Yang paling utama sebutan itu menyebabkan umat merasa Tuhan dekat dengan dirinya dan dapat didayagunakan untuk meningkatkan keyakinannya bahwa mereka merasa tertuntun oleh kesucian Tuhan untuk menyelenggarakan hidupnya menuju hidup yang makin baik.
=============================(sumber disini)
Menulis hal ini karena saya hanya ingin memperjelas dan mempertegas bahwa Hindu sebenarnya memuja hanya Satu TUHAN. Jadi tidak benar kalau kami memuja banyak Tuhan. Itu sudah dijelaskan dalam Kitab Weda. Nama-nama yang kemudian ada adalah berdasarkan pada fungsi, tugas dan manifestasi Beliau.
Seperti Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta beserta isinya, Dewa Wisnu merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pemelihara dan Dewa Siwa yang merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pelebur
.
Semoga uraian *singkat* diatas dapat menjawab pertanyaan Mengapa Hindu mempunyai banyak nama untuk menyebut Tuhan dan apakah Hindu memuja banyak Tuhan
.
26 Sep
Puluhan ribu tempat pemujaan di Bali berdasarkan karakternya dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kawitan, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kahyangan Jagat. Pura Kahyangan Jagat ini dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap baik sebagai Pura Rwa Bhineda, sebagai Pura Catur Loka Pala maupun sebagai Pura Sad Winayaka dan juga sebagai Pura Padma Bhuwana. Pura-pura manakah yang digolongkan menurut peran dan fungsinya?
==============================================
23 Jul
GUBERNUR menuding bupati dan wali Kota tidak tegas menjalankan perda, sehingga Bali bopeng. Siapa sih yang sebenarnya tidak tegas, bukankah kedudukan yang lebih tinggi itu gubernur? Bukankah pernyataan ini justru sebuah pengakuan ketidakberhasilan memimpin Bali. Kalau ada bawahan gubernur yang lemah dan tidak tegas kenapa tidak ditindak? Ini berarti budaya ewuh pakewuh masih kental melekat. Bali bopeng adalah akibat otonomi daerah yang kebablasan, sehingga memunculkan raja-raja baru di daerah dan membuat Gubernur tidak ”dianggap” atau dicuekin. Demikian pendapat masyarakat yang terungkap dalam acara Warung Global dengan topik ”Gubernur Tuding Bupati tak Tegas”, yang disiarkan Radio Global FM Bali, Sabtu (21/07). Berikut rangkumannya
==========================
Agung Adnyana di Sanur menilai Bali bopeng bukan karena bupati dan wali kotanya yang tidak tegas tetapi dari pusat, propinsi sampai daerah kabupaten semua itu ada korelasinya. Dalam hal ini jangan hanya menyalahkan tingkat II saja. Mengingat, semua sangat berkaitan. Seperti kasus loloan jangan hanya bupati disalahkan tetapi juga pusat dan propinsi. Kita harus berpikir untuk tidak saling menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab. Perda selama ini tumpang tindih akhirnya saru gremeng.
Walek di Tabanan merasa bingung, siapa sih yang sebenarnya tidak tegas, bukankah kedudukan yang lebih tinggi itu gubernur. Kalau ada bawahan gubernur yang lemah dan tidak tegas kenapa tidak ditindak? Gubernur bukankah selama ini sudah tahu, tetapi diam saja. Ini berarti budaya ewuh pakewuh masih kental melekat. Pemimpin harus kreatif, dan untuk yang akan datang harus cari pemimpin kreatif tidak diam-diam saja, karena kalau diam bukan pemimpin namanya. Bupati juga harus punya andil untuk memberi tahu kepada gubernur apabila ada kerusakan di daerahnya. Dan, gubernur tetap harus bertanggung jawab pada kerusakan lingkungan.
20 Jul
KEBUDAYAAN Bali mesti dipahami tak sekadar pentas kesenian. Kebudayaan itu mencakup hal yang luas dan kompleks. ”Selama ini kebudayaan Bali diterjemahkan sebatas seni pertunjukan. Padahal kebudayaan Bali itu mencakup hal yang totalitas, dari apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat orang Bali,” ujar pengamat budaya Drs. Nyoman Wijaya, M.Hum. Contohnya, para penulis pun sesungguhnya termasuk bagian dari unsur kebudayaan, tetapi mereka tak pernah mendapat penghargaan.
Oleh karena itu, ke depan, Pesta Kesenian Bali (PKB) tak hanya pesta seni, tetapi pesta kebudayaan. Sehingga dalam event itu tak hanya diselenggarakan pentas seni tari dan tabuh, pun PKB itu cukup dilangsungkan lima tahun sekali. Di sela-sela itu — setahun sekali — digelar pesta teknologi masyarakat Bali, seperti bagaimana cara membuat tombak, keris, dan cara membuat aungan — saluran irigasi.
Dalam kebudayaan pun, Bali mengenal budaya politik. Tetapi kita tak pernah menjamah budaya politik, sehingga visi dan misi politik saja masih banyak yang rancu. Kurang dewasanya masyarakat dalam berpolitik, tak terlepas dari kurangnya menjamah budaya politik.