ka-nia.com

Catatan Yang Mengiringi Langkahku…

Archive for the ‘Budaya/Religi’ Category

Piodalan…..

Apa siy piodalan tersebut ?

Piodalan adalah upacara pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya lewat sarana pemerajan, pura, kahyangan, dengan nglinggayang atau ngerekayang (ngadegang) dalam hari- hari tertentu.

Kata piodalan berasal dan kata wedal yang artinya ke luar, turun atau dilinggakannya dalam hal ini Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya menurut hari yang telah ditetapkan untuk pemerajan, pura, kahyangan yang bersangkutan. Piodalan disebut juga petirtayan, petoyan, dan puja wali. Sumber

(more…)

Penjor Ala Nirwana’s Family

Beginilah kalau di rumah itu nga ada cowoknya ***selain bapak***. Harusnya pekerjaan tersebut diselesaikan oleh laki2 maka kalau di rumah pekerjaan tersebut diselesaikan oleh perempuan dah. Contohnya adalah membuat penjor. Kalau dah begini, kayaknya para putri berubah menjadi para putra :D .

Syukurnya, wanita2 di rumah adalah wanita2 perkasa. Meski Tia dan Rian masih kecil, tapi mereka dengan sangat antusias membantu bapak bikin penjor. Sedangkan Ibu, yah jangan ditanya, pasti membantu sekali. Saya sendiri juga bantuin koq :D .

Photobucket

Memulai membuat penjor

Photobucket

Membuat Gelang-gelangan

(more…)

Om Swastiastu

“Hati berselimut kebajikan ;

Jiwa berpayung dharma ;

Raihlah Kemenangan dalam Kedamaian “

Rahajeng Nyanggra Rahina Galungan lan Kuningan dumogi Ida Sang Hyang Widhi Wasa mapaica Karahajengan lan Kesukertaan ring jagate.

Om Santi, Santi, Santi Om

  • 6 Comments
  • Filed under: Budaya/Religi, Umum
  • Bondres Pohon Obat

    KALAU kita membaca purana-purana mengenai tanah Bali, maka kita mendapatkan gambaran tentang tanah Bali yang begitu asri. Pantai, sungai, tebing dan hutan yang demikian mempesona. Di situlah para leluhur Bali mendirikan tempat suci.

    Begitu kaya alam Bali. Berbagai tanaman ada. Kekayaan alam inilah yang dipersembahkan dalam ritual keagamaan di pura. Konsep leluhur orang Bali di masa lalu adalah tempat suci di Bali harus didukung oleh alam indah dan sarana persembahyangan yang datang dari alam Bali sendiri. Kalau mau dikatakan dengan bahasa sekarang yang lebih modern, persembahkanlah hasil kekayaan alam sekitar dalam setiap pemujaan.

    Sayangnya, kini manusia Bali sudah berubah, melupakan warisan leluhurnya dan sudah menyimpang jauh dari purana yang ada. Janur (busung) sudah datang dari Banyuwangi dan Situbondo, demikian pula bunga, ayam, itik dan telur. Buah bertruk-truk datang dari luar Bali termasuk dari luar negeri seperti Amerika, Cina, Thailand dan sebagainya. Sotong, juwet, belimbing, jeruk Bali, sudah kalah gengsi dengan buah peer dari Cina, apel dari Amerika dan sebagainya.

    Padahal, tanaman khas Bali yang dipelihara para leluhur orang Bali di masa lalu, bukan saja untuk persembahan di pura kalau ada upacara, juga untuk sarana mengobati orang sakit. Antara tanaman yang tumbuh di tanah Bali dan penyakit yang diderita orang Bali, klop. Keahlian orang Bali dalam meracik hasil-hasil alam ini memunculkan apa yang disebut dengan Usada Bali, sebuah ilmu pengobatan penyakit dari bahan alam. Memang, ilmu semacam ini bukan hanya ada di Bali, di berbagai belahan bumi juga ada. Tetapi yang pasti, ilmu ini (Usada Bali) jauh lebih cepat merosot dibandingkan yang dipraktikkan di India maupun Cina. Bahkan dunia kedokteran modern sudah mengakui keunggulan ini sehingga banyak obat-obatan dan suplemen kesehatan yang memakai racikan dari alam. Herbal, begitulah istilah populernya.

    (more…)

    Hindu Memuja Banyak Tuhan ???

    Tuhan dalam Mantra Weda XXXII.3, dinyatakan tidak punya bentuk dan nama. Para vipra atau orang-orang bijak dan sucilah yang menyebutnya dengan banyak sebutan. Hal itu untuk memudahkan umat dalam menguatkan hidupnya untuk suatu tujuan mulia. Demikian juga umat awam pun akan menyebutkan berbagai kemahakuasaan Tuhan itu dengan berbagai sebutan sesuai dengan kemantapan hati nuraninya. Yang paling utama sebutan itu menyebabkan umat merasa Tuhan dekat dengan dirinya dan dapat didayagunakan untuk meningkatkan keyakinannya bahwa mereka merasa tertuntun oleh kesucian Tuhan untuk menyelenggarakan hidupnya menuju hidup yang makin baik.
    =============================

    (sumber disini)

    Menulis hal ini karena saya hanya ingin memperjelas dan mempertegas bahwa Hindu sebenarnya memuja hanya Satu TUHAN. Jadi tidak benar kalau kami memuja banyak Tuhan. Itu sudah dijelaskan dalam Kitab Weda. Nama-nama yang kemudian ada adalah berdasarkan pada fungsi, tugas dan manifestasi Beliau.
    Seperti Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta beserta isinya, Dewa Wisnu merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pemelihara dan Dewa Siwa yang merupakan perwujudan Tuhan sebagai Pelebur :) .

    Semoga uraian *singkat* diatas dapat menjawab pertanyaan Mengapa Hindu mempunyai banyak nama untuk menyebut Tuhan dan apakah Hindu memuja banyak Tuhan ;) .

  • 2 Comments
  • Filed under: Budaya/Religi