Catatan Yang Mengiringi Langkahku…
21 Oct
Kata2 yang sama terdengar kembali, jelas dan keras……dan kali ini menohok saya dalem banget.
Terima kasih telah mengingatkan batasan saya. Terima kasih telah mengatakannya dengan sangat jelas. Terima kasih telah menghujani hati saya dengan ucapan yang tajam.Suatu hari nanti, saat hari berganti…..saat musim berganti…..saat bunga2 mekar…..saat yang indah datang….Putraku, Ajuz Satya Wicaksana, sama sekali tidak boleh berkata hal yang sama, baik kepada Ibunya, Anaknya ataupun Istrinya. Tidak kuijinkan anakku melakukannya kepada siapa pun juga.
Semoga kau benar2 menjadi anak yang suputra…seperti yang selalu ibu ajarkan dari sejak kau ada di rahim ini. Ingatlah…..untuk selalu welas asih, hormat dan menghargai perasaan orang lain.Putraku…..masa depanku….. Ingat keluarga Ibu dengan baik….karena mereka sangat tulus mencintai dan menyayangimu.
Saat kau pergi melangkahkan kaki keluar dari rumahmu, apakah hatimu untuk mereka harus pergi seutuhnya
![]()
2 Responses for "The Hardest Day"
om swastiastu……
wenten napi niku tubiang?? ados emosi tampaknya??
pisss
@gusde : Swastiastu mewali
Selamat datang di rumah virtual mbo…..
Iyaaaaaaaaaaa………..gpp koq……emosi hati yang sedih dan berduka ajah :).
Musti punya hati seluas jagat raya agar bisa dan mampu menampung semua emosi sedih :).
Dan punya hati sedalam laut untuk bisa memendam semuanya
Leave a reply