Semalam kami secara tidak sengaja menonton acara Bukan Empat Mata. Yang menjadi bintang tamunya adalah 2 wanita *yang saya lupa banget namanya……. Cucunya Mak Erot *juga lupa namanya :D ….. dan Geisha *ini nama band, jadi pasti ingat.

Saat Tukul bertanya kepada para personil Geisha, apa yang membuat mereka puas dalam hidup yang dijalani……….saya pun menanyakan hal yang sama kepada suami.
Apa yang memuaskanmu, suamiku……..Tanya saya sambil cengar cengir.
Suami memandang saya dan tersenyum, manusia tidak pernah puas……..jawabnya.
Kemudian dia bicara lagi, Bli Gus hanya bisa bersyukur akan apa yang sudah dimiliki, akan apa yang sudah ada dalam hidup *sambil memeluk saya.
Saya hanya bisa tersenyum dalam pelukannya.

Awal kehidupan pernikahan yang kami jalani memang tidak semulus dan semudah pasangan lain yang menjalani kehidupan mereka dengan indah. Yang mungkin tiap hari adalah bulan madu.
Awalnya bagi kami merupakan saat yang menentukan kali yaaaa…. Pacaran yang singkat dan dengan jarak beratus-ratus kilometer, membuat kami hanya bisa dipertemukan dalam *suara-suara yang terdengar dari telepon kami masing2. Jarang bertatap muka, menyelesaikan masalah hanya lewat telepon, kami mengenal kepribadian masing2 dengan cara kami sendiri. Tanpa pernah tau bagaimana jika berhadapan secara langsung.
Jadi di awal pernikahan itulah merupakan masa perkenalan kami akan kepribadian, sifat dan karakter masing2 dengan lebih mendalam. Terutama dalam melihat mimik wajah ketika kami bicara, becanda, menyelesaikan masalah. Atau mengenal raut muka ketika kesal, marah, sedih, jengkel, sakit dsb.
Kesabaran dan ketulusan membawa saya pada hal yang jauh mendalam kepada pemahaman akan bagaimana dia berpikir dan merasa, bagaimana dia ‘akan’ dan hal2 lainnya.
Dan pemahamannya akan ’saya’ pun semakin membaik.
Seiring berjalannya waktu beginilah kami, menjalani kehidupan dengan saling asah, asih dan asuh. Saling mengerti dan memahami. Apalagi dengan hadirnya malaikat kecil di perut ini, menambah ikatan kasih dan cinta menjadi semakin kuat.
Cinta dan cocok mungkin dua kata dalam memutuskan sebuah pernikahan terjadi. Namun lebih lanjut dari itu, dan lebih dalam adalah bagaimana kita menerima pasangan, mengerti dan memahaminya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kepercayaan, kesetiaan, penghargaan merupakan hal lain yang harus ada.

Saya jadi ingat ketika saya terjatuh dulu.
Pak GM *waktu itu saya dipanggil khusus keruangannya……sambil memegang erat tangan saya, beliau berkata : suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan orang yang jauh lebih baik. Orang yang jauh lebih sayang. Saat itu kamu akan sadar, bahwa menemukan cinta sejati memerlukan sebuah perjalanan yang panjang. Saat itu kamu akan menemukan kebahagiaanmu.
Putri saya dulu mengalami apa yang kamu alami. Terjatuh dan sakit. Kegagalan adalah hal yang biasa dalam hidup manusia. Dengan terjatuh kita tau rasanya sakit. Semakin sering jatuh, semakin kebal kita dengan rasa sakit. Dan sekarang lihat, putri saya pun menemukan kebahagiaannya dan kamupun akan mendapatkan hal yang sama.
**kalau ingat beliau dan kata2nya, saya jadi terharu…..

Dan ketika saya mengajukan surat resign, Senior Manager HRD saya bercerita tentang ketangguhan seorang karyawatinya melewati ujian dalam hidupnya. Awalnya terpuruk dan terjerembab kedalam titik nol dalam kehidupannya. Namun kemudian wanita itu bangkit dan menemukan kebahagiaannya.

Saya banyak belajar dari hidup yang sudah dijalani. Apalagi ketika melewati masa2 sulit dan sakit. Bukan bagaimana berperang melawan rasa sakit dan sedih, derita dan sengsara……tapi bagaimana bersahabat dengan rasa sakit, sedih, derita, kecewa dan sengsara yang kita rasakan untuk menemukan kebahagiaan itu sendiri. Saya bersyukur kepada-Nya……beliau selalu selalu selalu dan senantiasa ada dengan menghadirkan orang2 yang mengajari saya untuk mengerti akan artinya duka, sedih, sakit, suka, cita, dan yang mengajari saya akan makna kasih dan cinta.

Terima kasih Tuhan. Aku sangat mencintaimu dan memujamu.
Terima kasih kau hadirkan dalam hidupku begitu banyak hal dan terutama adalah kau hadirkan seorang pasangan yang menemani dalam sisa perjalanan kehidupan yang indah ini. Dengannya aku merasa lengkap dan utuh baik secara Jiwa dan Hati. Semoga kasih dan cinta kami tidak akan lekang oleh waktu dan seperti yang selalu dia katakan ‘hanya kematian yang dapat memisahkan’.