Sejak bertemu dengannya, mungkin tak berpikir bahwa dialah yang akan menjadi pendamping hidup saya. Meski awalnya ragu2 akan hal tersebut, namun pada akhirnya dengan keyakinan yang pasti saya pun mengambil keputusan untuk bersedia mengarungi bahtera rumah tangga dengannya.

September tahun lalu, ketika pernikahan adik saya, mungkin itulah menjadi sebuah awalan yang baik bagi kami dan keluarga. Orang Tuanya diundang datang ke pernikahan adik. Begitu pun dengannya. Meski memilih waktu yang berbeda [orang tuanya sore hari, dia malam hari], namun pertemuan keluarga yang terjadi di pernikahan adik saya menjadi sebuah kesempatan mereka mengenal saya. Meski waktu itu saya belum ada hubungan apa2 dengannya. Ketika orang tuanya pamit, mereka dengan formal mengundang saya untuk datang ke rumahnya sebelum saya berangkat ke Jakarta. Orang Tua saya pun mengiyakan.
Malam ketika dia datang ke pernikahan, sebuah doa dia panjatkan dihadapan adik saya.
“Selamat yah gek……moga langgeng dan semoga bli gus menyusul tahun depan” katanya sambil menatap saya.
Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah *dia pasti bercanda* :D .

Esoknya, saya pun memenuhi undangan orang tuanya. Setiba di rumahnya, saya disambut dengan hangat oleh orang tuanya. Sebagai perkenalan secara resmi *padahal saya belum ada hubungan apa2 dengannya :D *, kami pun makan malam di sebuah warung bernuansa makanan daerah Lombok.

Setelah makan itulah, di rumahnya, sang Ayah berbicara serius dengan kami berdua. Waktu itu saya bingung, *saya akan diapakan qiqiqiiqiqiiq….. Intinya, bla bla bla bla……….yah pokoe omongan serius yang nga akan saya lupakan. Jantung saya denyutnya kencang sekali. Entah suara apa yang lebih keras dibandingkan degup jantung saya waktu itu. Karena saya cuman bisa senyum2 ngag jelas dan bilang iya iya dan iya.

Esoknya di bandara, saya pun bertanya padanya….. Apa maksud mereka bicara serius seperti itu…… apakah kita *^@*^#^@(@@??
Tersenyum lah dia memandang saya, *aku nga perlu ngomong lagi, semua sudah dikatakan oleh Aji*. Gubraaaaakkkkk…..
Sebagai orang yang memang tidak pernah mau bicara banyak, artinya semua dia tunjukkan dengan tingkah laku dan sikapnya, dan sebagai orang yang memang tidak pernah bisa romantis, saya mengerti maksudnya.

Seminggu kemudian saya pulang lagi ke Bali untuk libur lebaran. Masih ingat dengan bujukan dan rayuannya yang meminta saya untuk pulang lagi ketika Hari Raya Galungan untuk diperkenalkan ke keluarga besarnya.

Kapan pastinya dia melamar saya.
Saya lupa2 ingat. Apakah pas libur Lebaran di Bulan September ataukah di Bulan Desember ketika saya daptar ulang untuk penerimaan PNS atau pas di telepon. Atau memang 3 kali dia mengatakannya qiqiqiiqiqiiq……….

Awalnya dia ingin kami melaksanakan pernikahan di Bulan Maret 2010, tapi karena ketidaksiapan dari pihak saya maka pernikahan kami diundur ke Bulan Juni 2010. Saya pernah bertanya, tidakkah dia terlalu cepat memutuskan bahwa saya adalah orang yang tepat untuk mendampingi hidupnya. Jawabnya selalu padat, cepet dan ringkas : Udah sangat yakin.
Hubungan yang express ini tentu saja banyak kendala. Mulai pengenalan sifat masing2, kebiasaan, dan hal2 lainnya. Belum lagi kami mengalami banyak ujian menjelang pernikahan. Semua itu harus dilalui melalui hubungan jarak jauh.

Hingga pada akhirnya saya pun tiba di Bali. Kembali memiliki pertanyaan sama : benarkah dia serius ingin menikah dengan saya :D . Entah kenapa pertanyaan tersebut selalu ada. Mungkin karena saya masih tidak percaya dilamar dengan express, menganggap semua ini adalah mimpi :D .
Malam itu, akhir April 2010, dia dengan serius bicara : Jika aku mati, maka mungkin saat itulah keseriusanku hilang. Jangan pernah ragu lagi.

Begitulah, 1.5 bulan kemudian, kami dan keluarga sibuk menyiapkan acara pernikahan. Keluarga besar saya utamanya, sangat terkejut dengan keputusan serba cepat tersebut. Baru saja pulang ke Bali dan tidak akan merantau lagi, tapi sudah akan pergi u/ menikah. Ketika upacara lamaran pertama, tante saya hanya menitikkan air mata, cepat sekali kamu akan pergi…begitulah katanya.

Dan kini, sudah memasuki bulan ke-4 pernikahan kami. Penyesuaian diri terhadap keluarganya dan dia menjadi hal2 yang saya lakukan di awal2 pernikahan. Kebersamaan kami yang bisa dihitung menjadikan awal2 pernikahan menjadi masa2 pacaran dan pengenalan :mrgreen: . Hal yang seru. Semuanya kian membaik tiap harinya. Dia dengan kasih sayangnya dan cinta yang jarang terkatakan melalui kata2, hanya disampaikan melalui sikap dan tingkah lakunya.

Suamiku, beruntungnya aku memilikimu. Aku bahagia bersamamu. Aku merasakan hidup yang lengkap dan jiwa yang utuh dengan bersamamu. Kau yang dipilih Tuhan untuk mendampingi hidupku hingga ajal menjemput. Kaulah takdirku. Terima kasih untukmu, cinta, hidup dan kasihku. Aku sangat menyayangimu.
Terima kasih atas segalanya. Beruntungnya aku memilikimu……. suamiku.