Setahun yang lalu…..

Tentang seorang pria dan wanita.
Sang pria sangat menyukai Bulan. Tiap malam sebelum tidur, dia selalu memandang sinar rembulan. Cahaya rembulan membuat hatinya sejuk dan tenang. Kegalauan yang dia rasakan menjadi memudar seiring indahnya sinar rembulan. Meski mendung atau hujan datang, dikala sinar rembulan terhalang, sang pria tetaplah menunggu, rembulan……..

Sedangkan sang wanita sangat menyukai Matahari. Baginya, matahari adalah sumber dari segala yang terang. Matahari bersinar dan membuat kehidupan itu menjadi hidup. Sumber dari kehidupan. Begitulah dia selalu mengatakannya. Setiap pagi, tatkala sang surya mulai terbit, sang wanita dengan senyumnya selalu berkata ’selamat pagi matahariku’….

Setahun kemudian…..

Suatu malam, sang wanita bergumam : ‘Malam tiada bintang’

Sahabatnya pun mendengar hal tersebut dan berkata : ‘bintang tidaklah terlihat indahnya tanpa sang malam, malam tetaplah gelap walaupun bersama bintang. Malam suka mentari…. tapi mentari tidak mencintai siapa2. Dia selalu sendiri… paling hanya awan/hujan yang bisa meredupkannya… Namun yang benar2 bisa meluluhkan mentari hanyalah sang malam……tapi malam dan mentari tak bisa bersama…’

Sang wanita tersenyum dan bertanya kepada sahabatnya : ‘Bukankah mentari sumber kehidupan….kenapa dia tidak mencintai siapa-siapa ?’

Sang sahabat pun menjawab : ‘mentari adalah cerminan seorang yang berkarakter kuat. Dia memang tidak membutuhkan siapa2 untuk bersinar, orang lainlah yang mencintai dia. Itulah mengapa sore begitu mellow saat malam ingin mendekati mentari, ia pergi meninggalkannya dalam dingin. Malam hanya bisa mendapatkan sinar mentari melalui rembulan. Rembulanlah yang dapat mempertemukan mereka saat gerhana, walau hanya sejenak…..’

Sang wanita kembali tersenyum……Teringat ’setahun yang lalu’…..