Apa siy piodalan tersebut ?

Piodalan adalah upacara pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya lewat sarana pemerajan, pura, kahyangan, dengan nglinggayang atau ngerekayang (ngadegang) dalam hari- hari tertentu.

Kata piodalan berasal dan kata wedal yang artinya ke luar, turun atau dilinggakannya dalam hal ini Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya menurut hari yang telah ditetapkan untuk pemerajan, pura, kahyangan yang bersangkutan. Piodalan disebut juga petirtayan, petoyan, dan puja wali. Sumber

Piodalan di Merajan sayah itu jatuh pada Budha Umanis Julungwangi. Sebelumnya tepat di Anggara Kasih Julungwangi, piodalan dilaksanakan di tempat “grand grand grand grand grand father” berasal, yaitu di Griya Gede Getakan. Sesudah 7 tahun, baru kali inilah saya menghaturkan sembahyang ke tempat asal dari keluarga sayah ini :D . Memang saya ini keturunan yang “nga sopan” karena nga pernah sembahyang kesana. Kebetulan pada saat tersebut juga ada acara “Pasupati”.

Upacara ini bertujuan untuk menghidupkan serta memohon kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Menurut keyakinan Hindu khususnya di Bali segala sesuatu yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi mempunyai jiwa, termasuk yang diciptakan oleh manusia mempunyai jiwa/kekuatan magis dengan cara memohon kehadapan Sang Pencipta menggunakan upacara Pasupati. Seperti contohnya yaitu benda yang disakralkan berupa Pratima, keris, barong, rangda, dan lain-lain. Sumber

Yang pasti, waktu tiba disana, saya sudah sangat terharu sekali. Hampir seluruh keluarga besaaaaaarrrr dari antah berantah berkumpul disini. Meski sebagian besar sudah saya kenal, akan tetapi, penyakit “lupa nama” dan “bingung” senantiasa menghantui. Acara berlangsung lancar sampe ada upacara “Pasupati”. Bagian ini saya lewatkan, bagi umat Hindu, pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi didalamnya ;) .

Kemudian acara piodalan di kampung halaman sayah dilaksanakan keesokan harinya. Budha Umanis Julungwangi…. Perasaan terharu kembali menghampiri, saat saya bertemu dengan saudara2 sepupu yang memang sudah lama tidak dijumpai. Apalagi ketemu keponakan2 (anak dari kakak2 sepupu), yang memang belum pernah bertemu. Ternyata merantau kelamaan itu juga nga baik, mengakibatkan kita rada ‘oon’ dan “lupa ingatan” wkakakakka…… Saya pun udah 7 tahun nga sembahyang pas odalan. Kalau pas pulang siy pasti sembahyang ke Merajan. Namun…..baru kali ini momen tersebut tepat.

Acara persembahyangannya pun molor karena hujan deras. Awalnya udah basah kuyup, pas giliran saya “nunas tirta”, banyak banget tirta di percikkan ke sayah. Katanya karena kelamaan tinggal di luar Bali, nga pernah pulang, nga pernah ada pas odalan. Saya bener2 terharu. Intinya tiap ‘nunas tirta’ saya jadi basah kuyup :mrgreen: . Empat hari sembahyangan, membuat saya mengembalikan apa yang ‘kurang’ dari hati dan hidup selama ini. ‘Keluarga dan kebersamaannya’. Memang keluarga merupakan harta yang paling berharga dan segala-segalanya di muka bumi ini.

101_0961

Cucu laki2

101_0970

Cucu perempuan

101_0981

Sekehe Gong

101_0996

Team “Mekidung”

101_1003

Suasana ‘meprani’

101_0986

Suasana ‘meprani’

101_1017

Suasana ‘Nyineb”
Seumur-umur baru kali ini ngayah pas “Nyineb”

Puji Tuhan…..saya bahagia mengikuti semua acara keagamaan ini. Lupa sejenak akan ’sesuatu’ yang menganggu. Terima kasih pada-Mu Tuhan