Catatan Yang Mengiringi Langkahku…
5 Nov
Sebelum melangkahkan kaki ke RSPP, saya berdoa, agar hasil CTSCAN yang sudah dijalani sebagai test yang katanya teliti sekali, akan mengakhiri spekulasi yang diperdebatkan oleh otak dan nurani saya mengenai teka-teki penyakit yang menggerogoti tubuh ini. Pukul 7.15 pm saya tiba di RSPP, daptar dan segera ke pool klinik internist. Karena sepi/kosong, saya langsung mendapat kesempatan untuk bertemu dokter, meski sebelumnya menunggu beberapa saat karena hasil CTSCAN belum datang.
Dan hasilnya begitulah ; seperti setahun yang lalu ; organ2 dalam semuanya baik, sehat n normal. Tak ada yang aneh. Saya pun ikut membaca hasilnya, dan ikut terhenyak seperti dokter yang hanya menatap seperti sebelumnya dia belum pernah melihat saya. Dia pun tidak bisa memberikan diagnosa. Dia bilang, dia tidak tau apa yang terjadi dengan saya. Sedangkan saya : saya tidak kecewa dengan hal ini. Bagaimanapun saya musti bersyukur, berbagai kecurigaan saya mengenai penyakit2 yang mungkin parah bisa disingkirkan jauh2. Normal & sehat adalah kata yang paling saya tunggu2. Meskipun demikian, kami berdua berbicara, membicarakan hal2 lain yang mungkin. Tapi tetep aja, dokter menggelengkan kepalanya. Begitulah, saya hanya harus istirahat dan menunggu, sampe mungkin mendapat petunjuk yang lain mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan saya. Kecuali obat luar, dia tidak memberikan saya obat. Karena secara diagnosa saya sehat, jadi tidak mungkin memberikan obat. Tidak seperti dokter saya yang dulu, meski belum jelas sakit apa, tetep aja dikasi obat yang banyak dan dosisnya selalu nambah.
Saya duduk di depan ruangan dan menduga-duga. Prasangka yang selama ini saya buang jauh2, kembali lagi mengisi pikiran.
Seminggu yang lalu, diagonosa otak ini pernah dibantah. Saya pernah mengatakan bahwa sakit ini seperti di control. Saya mulai sakit yaitu Senin seminggu yang lalu jam 8 pagi. Dan mulai berkurang menjelang tengah malam. Esoknya, sakit ini berulang di jam yang sama dengan ciri2 yang sama. Sampe akhirnya saya musti masuk IGD dan hal2 berikutnya yang terjadi.
Apa kecurigaan saya………
Sakit ini adalah sakit Non Medis.![]()
Sampe semalam, kecurigaan itu semakin jelas. Cara satu2nya untuk membuktikan adalah dengan check hal tersebut. Saya telepon ke rumah, tentu saja Ortu tidak tau apa yang terjadi dan berbicara singkat ke adik. Seperti biasa, kami bertengkar. Pyuuhhh………antara dia yang nyuruh saya pulang dan berobat di rumah dan saya yang masih kekeuh untuk menjalani semuanya disini. Telepon pun ditutup tanpa ada intonasi menurun dari pertengkaran singkat kami.
Sampe tadi pagi, saya meminta maaf atas kejadian semalam. Rasanya tidak menyenangkan bertengkar dengannnya hehehhe………… Setelah lama berpikir, saya musti mengambil resiko dengan menghubungi beliau, yang selama ini ‘menjaga’ keluarga besar kami. Awalnya ngbrol umum2 **meski beliau sudah curiga**, sampe akhirnya, saya memohon agar apa yang saya sampaikan agar tidak disampaikan ke bapak n ibu. Belum banyak bercerita tentang kesehatan, beliau hanya bilang, “bla bla bla bla………….”.
Selesai. Sakit saya memang Non Medis. Duuuhhhh……….nyari obatnya yang susah.Antara Ada dan Tiada…..begitulah seminggu ini saya menjalani hidup. Ketika saya tidak sadarkan diri malam Senin lalu, ketakutan saya akan hal yang terjadi dengan alm.kakak saya ataukah kejadian beberapa tahun yang lalu sudah terbukti. Bahwa berbagai “mantra perlindungan” kadang tidak sanggup melindungi diri saya dari jangkauan niat jahat orang. Pyuuuhh……….antara percaya dan tidak, saya terlahir di Bali, di tanah dengan berbagai hal mistik.
Saya jadi teringat, 2 bulan lalu ketika saya pulang, beliau pun pernah mengatakan bahwa sakit di kepala termasuk sudah parah. Terlihat saya ketawa-ketawa, gembira ria, tapi dibalik itu semua, saya sedang menahan sakit. Diantara saudara2 di keluarga besar, saya memang target utama akan berbagai serangan. Jika saya pulang, tak bisa dipungkiri, saya tidak pernah lepas dari berbagai hal perlindungan dan tidak pernah lepas pula dari jangkauan mata sang ‘pelindung kecil’. Kemanapun pergi, dia selalu ada di sisi saya. Saya lupa kapan terakhir kali pergi sendiri tanpa ada ‘dia’ disisi saya.
Catatan Kaki :
- apapun yang terjadi, sesakit apapun hal yang saya rasakan, sekarat/tidak, parah/tidak, yang penting bagi saya adalah ‘penasehat&pendamping’ yang selama ini mendampingi meski dari jauh, telah kembali setelah menghilang beberapa waktu. Thx u dan jangan menghilang lagi yah. Dan perang ini tak akan pernah berakhir, akan berlanjut dari generasi ke generasi. Yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari, melindungi & menjaga sebanyak mungkin orang2 yang saya sayangi.- Dokter, saya tidak menyalahkanmu. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin
3 Responses for "Perang Tiada Akhir"
jadi bingung mau bersyukur apa ga. syukurnya karena ternyata memang there is no such penyakit yg itu and ternyata beh..kena penyakit Bali..
mungkin perlu dipertimbangkan untuk pulang ke Bali Nia…
p.s. sorry akhir2 ini sy sibuk di IT
setuju dgn mas devari. mungkin perlu dipertimbangkan untuk pulang. atau pindah kantor mungkin?
@Devari : Mending sakit medis lah. Bisa berobat di Jakarta. Nga sampe pulang ke Bali
.
@Soyuz : Wkkakakak………….dasar. Pindah kantor ?? Lagi dipikirkeun. Masnya kasi adik kerjaan ajah
Leave a reply