Setelah serangan sakit yang tiada tanda2 kesembuhan sampai saat ini, maka sepertinya hidup saya diuji lagi dengan badai lainnya. Sakitnya, lebih sakit dari apa yang saya rasakan sekarang. Jadi mantaplah sudah, sakit saya secara hati, otak dan fisik, sehingga kadang membuat saya berada tidak ditempat. Secara saya, Kania, saya sudah tidak memiliki apa2 lagi selain support dan semangat keluarga. Lainnya saya merasa sendirian.

Dua malam ini badai tiada henti datang menghantam. Badai semalam lebih dahsyat daripada apapun juga yang saya jalani selama ini. Badai itu menghancurkan hati saya sehingga hanya bersisa sedikit sekali. Saya tidak punya kekuatan untuk mengumpulkannya. Bahkan keinginan aja udah nga ada. Jika saya di Jakarta, mungkin akan terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Meski di rumah pun, selalu ada kemungkinan hal2 tersebut terjadi. Setelah hantaman badai semalam, saya udah capek. Capek sekali dengan semua hal yang terjadi. Otak saya dipenuhi oleh hal2 mengerikan. Sampe semalam saya memutuskan untuk tetap bertahan dan bersemangat untuk hidup. Tapi hari ini, sepanjang perjalanan Klungkung-Sebatu, saya berpikir sebaliknya. Pikiran ini, sel-sel kelabu ini memikirkan cara terbaik, menimang2 dan membuat perencanaan2 tertentu.

Sakit saya yang belum sembuh2 juga, kadang membaik kadang memburuk, telah membuat semua keluarga menjadi khawatir. Meski mereka selalu tampak bersemangat tapi saya melihat kesedihan setiap saya melenguh kesakitan. Sedangkan sakit ini, agak susah untuk dihilangkan. Keras, atos, sulit, nga bisa sekali, musti berkali-kali entah sampe kapan. Saya yang nga tahaaannnn………. Hari ini bisa tidur, besoknya bisa berhari-hari susaaaah tidur. Apalagi setelah hantaman badai semalam, saya menjadi semakin tidak karu2an. Males sekali untuk melanjutkan pengobatan. Saya nga mau sembuh. Saya males sembuh. Udah males banget. Saya nga punya kekuatan karena saya ”ingin ditinggalkan”. Rasanya udah dibunuh idup-idup. Hidup Segan Mati Mau Banget.

Saya mungkin aktris yang baik dalam berakting. Saat tertawa saya tertawa, saat sedih selalu berusaha tersenyum. Menjaga agar air muka tidak berubah semendung jiwa saya. Disini, saya harus bersikap sebagai seorang anak dan kakak. Namun, jauuuuhhh dalam lubuk hati, keinginan saya untuk terus hidup itu sepertinya semakin memudar. Inilah kehancuran saya. Kehancuran manusia akibat keputusasaan. Sel-sel kelabu ini tidak ingin kehancuran diri menyeret orang lain terlebih keluarga. Kehancuran saya secara total hanya akan dirasakan oleh saya sendiri. Jika memang mereka ikut terseret, mereka akan merasakan ’sekali’.

Kehidupan yang saya rajut selama 5 tahun terakhir, adalah kehidupan terindah yang diberikan Tuhan kepada saya. Jika pun saya harus mengulang, maka kehidupan 5 tahun terakhir ini, akan kembali saya jalani, akan saya perbaiki apa yang salah, saya tidak menyesal dengan apa yang telah dijalani selama ini.

Saya lelah……………Saya ingin beristirahat. Kakak, bawa adik yah…..adik dah capek disini. Bersama-sama kita jaga keluarga dari kejauhan. Adik capek………