Sudah lama ingin menulis tentang hal ini. Rasanya tiap kali orang menyakiti saya karena masalah gender, peristiwa ini akan kembali terngiang-ngiang dalam otak saya. Tuhan begitu sayang pada saya, sehingga memory di kepala ini selalu tersedia untuk menampung banyak peristiwa.

Alkisah dulu, saya ikut banyak kegiatan kemahasiswaan…….tapi saya nga pernah aktif di kegiatan yang diadakan oleh xxxx. Sampe suatu saat saya ditegur oleh ketuanya. Ketika itu yang saya katakan adalah, ‘rumah saya jauh. Kalau ikut kegiatan xxxx, rekan2 dari kegiatan tersebut tidak sungkan2 untuk sekedar memberikan waktu dan tenaga hanya mengantarkan saya pulang ke kosan. Apakah kalau saya ikut masuk dan aktif, saya akan mendapat perlakuan yang sama’. Waktu itu beliau tidak bisa mengatakan apapun juga. Tapi bukan Kania namanya kalau hanya menyerah karena hal tersebut. Saya pun masuk dari anggota tidak aktif menjadi anggota aktif. Menghampiri segala kegiatan yang ada. Sampe di organisasi tersebut saya masuk menjadi pengurus. Waktu pemilihan, masih terngiang-ngiang peristiwa tersebut…… Oleh beberapa orang, seolah-olah mengarahkan yang lain, bahwasannya, wanita itu kalau bisa ditempatkan sebagai Sekretaris atau Bendahara. Jadilah saya Sekretaris sebelum akhirnya jabatan itu di switch kembali, bahwa saya ditunjuk menjadi bendahara. Ketika masa2 itu…..banyak kegiatan yang memang diadakan. Meski tetap terlihat di mata anggota lain, saya hanya perempuan yang begitu2 aja. Perbedaan gender itu jelas sekali terlihat. Padahal di kegiatan lain, karir organisasi atau sepak terjang saya jelas terlihat qeqeqeeeq……… Kalau ada senior yang baca bisa muntah ney :mrgreen: .
Sampe pada akhir masa kepengurusan, kami mengadakan kegiatan yang lebih besar. Mungkin anak2 kampus masih ingat kegiatan tersebut :mrgreen: . Seru dan menyeramkan :D .

Tiba kembali saat pemilihan akan kepanitiannya………Panitia inti yang dipilih dengan suara mufakat :mrgreen: .
Sebelum pemilihan ketua panita, beberapa anggota yang notabene dari anggota yang sudah ’senior’ mengatakan dengan santai dan nikmat bahwa ‘lebih baik ketua panitia itu adalah laki2….karena kalau perempuan pasti tidak sanggup dengan beban yang ada. Seperti banyaknya hal yang harus diurus dan mengorganisir anggota dll dsb dst.’ Pertanda lain kalau kesempatan bagi perempuan untuk memimpin dijegal karena alasan ‘gender’. Padahal di bursa calon ketua, nama saya terpampang dengan jelas alias dicalonkan oleh anggota yang lain yang berjenis kelamin ‘wanita’ :mrgreen: .
Ketika mendengar hal tersebut, saya udah menyangka akan kemana cerita ini berakhir. Saya hanya tertawa mendengarnya. Tawa sedih dan kecewa. Sekali lagi, gender yang dipermasalahkan. Dan jelas terlihat pada hasil pemilihan qeeqeqe…… Nama saya dipilih oleh para wanita. Yah jelas saya keluar sebagai wakil ketua panitia :mrgreen: . Saya siy senang dengan keputusan ini. Hanya kata2 dari orang2 tersebut sampe sekarang masih jelas terdengar dan terngiang-ngiang di telinga ini. Bagaimana cara mengucapkannya, posisi mereka duduk, ruangan mana dari kampus yang digunakan :mrgreen: .

Setelah acara berakhir, sang ketua panitia mendatangi saya dengan wajahnya yang sedih. ‘Saya tidak mau menjadi ketua panitia, seharusnya kamu, saya tidak sanggup, me-lobby ke pihak kampus, perencanaan kegiatan, organisir anggota. Stress aku, bisa2 nga jadi kegiatan ini. Apapun yang tadi terjadi di dalam adalah sebuah kesalahan’.
Waktu itu saya tidak menertawakannya atau kasihan padanya. Yang dia butuhkan saat itu adalah dukungan dari anggota team-nya. Ketuanya sendiri adalah sahabat saya juga, orang terbaik yang mungkin ada disana, orang yang menghormati perempuan, dan orang yang selalu mendukung saya selama menjalankan masa kepengurusan. ‘Saya mendukungmu sepenuhnya. Kita akan membuat acara ini sukses. Apapun yang kamu katakan tidak sanggup melaksanakannya, akan terlaksana dengan baik. Serahkan pada saya :mrgreen: **sombong mode on*** .

Maka jadilah kegiatan tersebut, Sabtu, Tanggal 17 Mei 2003. Sukses tapi panitia defisit anggaran qeqeeqeqe………Tapi sudah teratasi juga pada akhirnya. Setelah kegiatan itu, masih ada kegiatan2 lain yang saya ikuti.
Pesona 2003. Kalau dikegiatan ini, nga usah ditanyakan, panitia berasal dari semua unit kegiatan dan semua suku yang ada hehehe……jadi perbedaan gender disini jelas tidak kelihatan :mrgreen: .

Kejadian di Kegiatan xxxx tersebut lah yang membuat saya menjadi keras seperti sekarang. Maksudnya, sifat ngalah saya ama cowok itu udah menipis. Cowok dengan ego-nya itulah yang membuat hal yang mudah menjadi sulit. Ego tidak mau mengakui bahwa wanita juga bisa sejajar dalam hal pemikiran & kecerdasan. Mungkin soal tenaga masih bisa diganyang-ganyang. Namun wanita bisa lebih keras usahanya, bisa lebih ulet dalam bekerja dan lebih cerdas dari pria :mrgreen: . Sekarang sebenarnya, tergantung para pria, bagaimana pria bisa mengerti, memahami dan menerima seorang wanita.
Pesan saya : Sayangi, hormati dan hargai wanita-mu, maka hidupmu akan tenang. Dibalik kesuksesan seorang pria berdiri sosok seorang wanita. Dan dibalik kehancuran seorang pria juga berdiri sosok seorang wanita. Contohnya : banyak banget :mrgreen: .
Wanita yang dimaksud disini bisa jadi adalah Ibu, Istri, Pacar, Kakak, Adik, Nenek ,Sahabat ;) .