Pagi ini saya menerima sms, tentang cinta. Ketika membacanya, saya memahami apa yang sedang dirasakan oleh si pengirim sms. Dan mungkin bagi si pengirim sms sendiri, itu merupakan cerminan dari hatinya yang paling dalam. Berikut petikannya :

Cinta itu semakin dicari, semakin tidak ditemukan. Cinta ada di di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, yang didapat adalah kehampaan. Tiada sesuatu pun yang didapat dan tidak didapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. “Terimalah cinta apa adanya”.

Saya tidak dapat membantunya untuk sementara ini, hanya memberi semangat. Kami dipisahkan oleh sebuah laut sebelah timur ujung Jawa. Saya hanya ingin melihat wajahnya, dan ingin tau akan kebenaran hatinya. Sebagai orang yang sangat menyayanginya, bertanggung jawab akannya, tentunya saya berusaha membantunya. Seperti yang selalu saya katakan padanya, “Jangan dengar kata mereka, ikuti nurani dan suara hatimu. Jangan sampai kamu menyesalinya dikemudian hari”.
Pertaruhan besar dalam hidupnya, seperti pertaruhan hidup yang sedang saya jalani. Kami tidak boleh dan tidak bisa mengkhianati suatu hal yang lebih besar daripada “rasa” yang kami alami dan miliki.

Karena seperti sms sebelumnya, ada kata-kata yang merupakan kekuatan kami yang tidak mungkin kami pertaruhkan.

“Tidak ada musuh yang berbahaya daripada kemarahan dalam hati sendiri, tidak ada cinta yang melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya, tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, kekuatan nasib itu tidak tertahan oleh siapapun juga”

Cukup hanya saya yang menjalaninya, dan saya tau bagaimana rasanya. Bagaimana saya membiarkan orang yang paling saya sayangi juga mengambil jalan yang sama dan ikut terjun ke jurang bersama saya yang akibatnya bukan hanya melukai kami tapi melukai banyak orang. Tapi seperti petikan sms diatas pula, tidak ada kekuatan yang menyamai nasib.
Maka semua diserahkan kembali kepada-Nya.