ka-nia.com

Catatan Yang Mengiringi Langkahku…

Archive for July, 2007

Puncak, 11 Juli 2007 (part 1)

Salah saya jika akhir-akhir ini menjadi “tidak perhatian” terhadap “seseorang”. Sebulan ini, dalam seminggu biasanya 3-4 kali saya duduk2 di depan kosan ampe malam…..mungkin paling malam yah tanggal 11 Juli kemaren.
Bukan bermaksud cuek atau apa, tapi hanya saja……..pikiran saya tuch lelah n terkadang bosan. Saya sebenarnya seorang pembosan. Pembosan sejati. Asli dech. Kalau selama ini, saya masih terlihat sepertinya orangnya ajeg *hehehe…..ngag jelas*, sejujurnya………ngag dech. Hati n pikiran ini yang lelah untuk mencari jalan keluar dari kebosanan. Selama di Jakarta ini, saya tentu saja bosan. Hahhahaha………bosan banget. Kadang ngag bersemangat. Paling nga enak itu kalau kebosanan datang pas sedang kerja. Oleh karena itu dan sebab itu, ketika melihat sebuah komunitas baru, kelompok orang2 baru….maka saya pun ikut masuk di dalamnya. Paling tidak, sekelompok orang2 ini, berbeda dari apa yang saya temui dalam 24 jam yang diberikan Tuhan.
Teman2 tongkrongan hehehhe………begitulah saya selalu menyebutnya.

(more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: Cerita Kania
  • Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
    Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
    “Siapa yang mencuri uang itu?”
    Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

    Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
    Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

    (more…)

  • 2 Comments
  • Filed under: Cerita Kania
  • Jangan Melawan Alam

    Jangan Tidur Larut Malam

    Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT,GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index).

    Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.

    Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.

    (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: Kesehatan
  • GUBERNUR menuding bupati dan wali Kota tidak tegas menjalankan perda, sehingga Bali bopeng. Siapa sih yang sebenarnya tidak tegas, bukankah kedudukan yang lebih tinggi itu gubernur? Bukankah pernyataan ini justru sebuah pengakuan ketidakberhasilan memimpin Bali. Kalau ada bawahan gubernur yang lemah dan tidak tegas kenapa tidak ditindak? Ini berarti budaya ewuh pakewuh masih kental melekat. Bali bopeng adalah akibat otonomi daerah yang kebablasan, sehingga memunculkan raja-raja baru di daerah dan membuat Gubernur tidak ”dianggap” atau dicuekin. Demikian pendapat masyarakat yang terungkap dalam acara Warung Global dengan topik ”Gubernur Tuding Bupati tak Tegas”, yang disiarkan Radio Global FM Bali, Sabtu (21/07). Berikut rangkumannya

    ==========================

    Agung Adnyana di Sanur menilai Bali bopeng bukan karena bupati dan wali kotanya yang tidak tegas tetapi dari pusat, propinsi sampai daerah kabupaten semua itu ada korelasinya. Dalam hal ini jangan hanya menyalahkan tingkat II saja. Mengingat, semua sangat berkaitan. Seperti kasus loloan jangan hanya bupati disalahkan tetapi juga pusat dan propinsi. Kita harus berpikir untuk tidak saling menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab. Perda selama ini tumpang tindih akhirnya saru gremeng.

    Walek di Tabanan merasa bingung, siapa sih yang sebenarnya tidak tegas, bukankah kedudukan yang lebih tinggi itu gubernur. Kalau ada bawahan gubernur yang lemah dan tidak tegas kenapa tidak ditindak? Gubernur bukankah selama ini sudah tahu, tetapi diam saja. Ini berarti budaya ewuh pakewuh masih kental melekat. Pemimpin harus kreatif, dan untuk yang akan datang harus cari pemimpin kreatif tidak diam-diam saja, karena kalau diam bukan pemimpin namanya. Bupati juga harus punya andil untuk memberi tahu kepada gubernur apabila ada kerusakan di daerahnya. Dan, gubernur tetap harus bertanggung jawab pada kerusakan lingkungan.

    (more…)

  • 7 Comments
  • Filed under: Budaya/Religi
  • Mensinergikan Budaya dan Teknologi

    KEBUDAYAAN Bali mesti dipahami tak sekadar pentas kesenian. Kebudayaan itu mencakup hal yang luas dan kompleks. ”Selama ini kebudayaan Bali diterjemahkan sebatas seni pertunjukan. Padahal kebudayaan Bali itu mencakup hal yang totalitas, dari apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat orang Bali,” ujar pengamat budaya Drs. Nyoman Wijaya, M.Hum. Contohnya, para penulis pun sesungguhnya termasuk bagian dari unsur kebudayaan, tetapi mereka tak pernah mendapat penghargaan.

    Oleh karena itu, ke depan, Pesta Kesenian Bali (PKB) tak hanya pesta seni, tetapi pesta kebudayaan. Sehingga dalam event itu tak hanya diselenggarakan pentas seni tari dan tabuh, pun PKB itu cukup dilangsungkan lima tahun sekali. Di sela-sela itu — setahun sekali — digelar pesta teknologi masyarakat Bali, seperti bagaimana cara membuat tombak, keris, dan cara membuat aungan — saluran irigasi.

    Dalam kebudayaan pun, Bali mengenal budaya politik. Tetapi kita tak pernah menjamah budaya politik, sehingga visi dan misi politik saja masih banyak yang rancu. Kurang dewasanya masyarakat dalam berpolitik, tak terlepas dari kurangnya menjamah budaya politik.

    (more…)

  • 15 Comments
  • Filed under: Budaya/Religi