Tidak terasa saya sudah 2 bulan bekerja disini dan sudah 2 bulan 6 hari hidup dan tinggal di Jakarta. Apa yang saya rasakan sangat berbeda. Antara hidup di Bali yang penuh dengan keramahan, kesopanan, tata krama dan etika serta keteraturan. Di Jogja, masih bisa dibilang mendekati hal di atas, tapi disini, di kota ini, di ibu kota, di sinilah, kesunyian itu datang. Begitu banyak orang baru yang dikenal dan menjadi teman dekat, tapi hati ini merasa “sunyi”. Disini, sedikit sekali yang bisa diajak beramah tamah, bersopan sopan dan berbaik-baik *koq jadi susah bahasa Indonesianya *, paling teman kantor aja. Lainnya saya tidak berharap banyak. Kesemrawutan dan keruwetan itulah yang selalu ada. Apalagi bulan kedua disini, wah kondisinya parah dech……runyam nyam nyam….. Sabtu kemaren contohnya, saya mengalami emosi yang parah. Kemarahan yang luar biasa dan kebencian yang begitu amat tinggi, hingga membuat sakit di dada, serasa sesak nafas. Kemarahan n kejengkelan yang sudah ditahan hari-hari sebelumnya, terakumulasi di hari Jumat dan meledak bagai bom atom di hari Sabtu. Sakit di dada n di hati membuat saya hilang kendali dan kehilangan sifat manusiawi :(. Di kantor pada saat itu *ada yang dikerjakan*, berusaha menjaga sikap ke orang2 yang juga lembur. Menjelang siang entahlah, kepala sudah berdenyut denyut, tidak ada toleransi pada ruang sekitar dan sepertinya sudah dikuasai Betara Kala, habis habis habis diri waktu itu. Saya pamit kepada yang lain, dengan suara dan tingkah yang sepertinya bukan saya, pintu pun di tendang, pintu gerbang pun dibanting hessssshhhhh………..saya berjalan ke kos dengan kemarahan yang luar biasa. Dan………

(more…)