1 May
Tidak terasa saya sudah 2 bulan bekerja disini dan sudah 2 bulan 6 hari hidup dan tinggal di Jakarta. Apa yang saya rasakan sangat berbeda. Antara hidup di Bali yang penuh dengan keramahan, kesopanan, tata krama dan etika serta keteraturan. Di Jogja, masih bisa dibilang mendekati hal di atas, tapi disini, di kota ini, di ibu kota, di sinilah, kesunyian itu datang. Begitu banyak orang baru yang dikenal dan menjadi teman dekat, tapi hati ini merasa “sunyi”. Disini, sedikit sekali yang bisa diajak beramah tamah, bersopan sopan dan berbaik-baik *koq jadi susah bahasa Indonesianya *, paling teman kantor aja. Lainnya saya tidak berharap banyak. Kesemrawutan dan keruwetan itulah yang selalu ada. Apalagi bulan kedua disini, wah kondisinya parah dech……runyam nyam nyam….. Sabtu kemaren contohnya, saya mengalami emosi yang parah. Kemarahan yang luar biasa dan kebencian yang begitu amat tinggi, hingga membuat sakit di dada, serasa sesak nafas. Kemarahan n kejengkelan yang sudah ditahan hari-hari sebelumnya, terakumulasi di hari Jumat dan meledak bagai bom atom di hari Sabtu. Sakit di dada n di hati membuat saya hilang kendali dan kehilangan sifat manusiawi :(. Di kantor pada saat itu *ada yang dikerjakan*, berusaha menjaga sikap ke orang2 yang juga lembur. Menjelang siang entahlah, kepala sudah berdenyut denyut, tidak ada toleransi pada ruang sekitar dan sepertinya sudah dikuasai Betara Kala, habis habis habis diri waktu itu. Saya pamit kepada yang lain, dengan suara dan tingkah yang sepertinya bukan saya, pintu pun di tendang, pintu gerbang pun dibanting hessssshhhhh………..saya berjalan ke kos dengan kemarahan yang luar biasa. Dan………
Tiap pulang kerja, muka udah kotak-kotak dan runyam *sepertinya*, namun ada yang selalu berusaha membuat saya tersenyum. Tiap kali pulang, saya selalu mengatakan “saya pulang”, seorang wanita pun tersenyum menyambut kedatangan saya. Betapapun bete dan capeknya hari itu, saya pasti langsung tertawa. Rasanya senang sekali masih ada yang menyambut dan menyapa
.
Tiba di kos, wanita itu kembali menyambut dengan senyum khasnya. Tapi saya tidak punya toleransi sepertinya. Hanya diam n menatapnya. Mengatakan bahwa saya sedang n akan meledak saking marah n jengkelnya. Dia hanya tersenyum n mengatakan “istirahat aja, semoga marahnya bisa hilang”. Masuk ke kamar dan membanting pintu. Saya duduk di ranjang, memegang kepala, menatap keliling ruangan, rasanya saya bisa makan orang niy hiks hiks…….Sunyi dan sunyi, hampa di hati. Benar2 sunyi. Kompas yang dibeli pun saya baca tanpa penghayatan yang berati. Saya pun tertidur. Dalam tidur, sayapun didatangi 2 orang yang sangat saya kenal baik. Dua orang tersebut berusaha memegang saya agar tenang, mengobati luka di hati dan pikiran saya, memegang jari kelingking dan entahlah apa yang terjadi waktu itu, mereka pun tersenyum menatap saya yang sepertinya menderita tekanan bathin yang begitu sangat. Setelah diobati, saya pun merasa bisa bernafas setelah sesak nga karuan. Mimpi pun berakhir dengan segala pesan, saya pun terbangun oleh ketukan di pintu. Wanita itu melongokkan kepalanya, “Rujaknya datang”. Saya bangkit berusaha tersenyum. Bekas luka itu masih ada dan belum hilang :(. Sambil makan rujak, sang wanita berusaha menghibur dan membuat saya tertawa, meskipun usahanya itu sia-sia, dia tetap melakukannya. Sampai akhirnya saya kembali ke kamar dan merenung. Entah apa yang dipikirkan, hanya ada “kesunyian”.
Malam pun tidak bisa tidur. Paginya saya siap2 akan berangkat ke Pura, sang wanita pun dengan penuh semangat dan penuh senyuman melepas saya yang masih digelayuti awan hitam. Ketemu teman ditempat biasa kamipun berangkat ke Pura. Dalam perjalanan, air mata ini pun tumpah meskipun tidak deras, hanya membuat genangan di sekitar kacamata. Sampai Pura, saya berusaha tenang, saat sembahyang pun, saking hening suasana saat itu, sakitnya menusuk kembali n menyiksa kembali. Tak kuasa menahan beban ini, saya pun bersimpuh lama, lama sekali. Sampai akhirnya saya meminta ampunan karena menyimpan kemarahan n kebencian. Perasaan ini tenang kembali dan jujur belum hilang kemarahan ini sepenuhnya. Sampai kos, sang wanita menyambut dengan senyumnya lagi. “Kelihatan capek dan sakit”, itulah kata2nya. Melihat usahanya yang ingin membuat saya sedikit ceria, akhirnya saya pun tersenyum dan tertawa. Tawa yang sepertinya beberapa jam menghilang entah kemana. Akhirnya kami bercakap-cakap, dia menemani saya yang sedang nyetrika kemudian kami bersama-sama pergi ke arah Melawai, wanita ini ingin makan bakpao hehehhe……. Kembali ke peradaban kata saya dalam hati. Sang wanita yang selalu menemani dan yang bisa diajak ngobrol untuk hal yang lain. Bukan masalah keruwetan Jakarta ataupun masalah pekerjaaan. Tapi pembicaraan yang ringan dan santai, penuh dengan gelak tawa. Akh…..wanita itu baik dan sangat perhatian. Sering menyelundupkan makanan ataupun ngajak saya nonton TV kalau tuan rumah tidak ada. Penuh pengabdian pada si empunya rumah. Wanita itu bernama “Muslia” atau saya sering manggilnya “Mba Mus”. Memanggil Mba bukan berati dia lebih tua dari saya, tapi malah 4 tahun lebih muda. Baru 20 tahun hehehhe……. Terima kasih Mba Mus, dalam kesunyian hidup, kamu hadir dan mengisi sisi lain dari hidup yang saya jalani. Sisi lain yang kadang saya pun tidak tahu bagaimana mengisinya. Sisi lain yang oleh Tuhan diisi oleh kehadiranmu. Sahabat, saudara dan sebagai adik, begitulah saya menganggapnya:). Terima kasih pada Tuhan, di saat yang paling kritis pun, beliau selalu mengirimkan bantuan dan malaikatnya. Terima kasih.
Sisi lain di hati tersebut juga pernah kosong ketika menginjakkan kaki di ranah Jogja *bahasa yang aneh
*. Sisi lain tersebut pun akhirnya terisi oleh seseorang yang bernama Herlina Isliko. Teman, sahabat dan bagai saudara kandung. Dokter pribadi sekaligus teman yang paling dekat. Dia yang merawat saya, memperlakukan saya seperti anak kecil dan yah…… teman curhat juga. Saya baru sadar kalau diri ini ternyata tertutup :D. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan saya di PW14 untuk pulang kembali ke negerinya di ranah Kupang. Hesssss……… saya menangis terus waktu dia pergi. Kesedihan hati ini pun terbaca oleh langit. Ketika menunggu travel yang akan membawanya ke Surabaya, hujan deras mengguyur kota Gudeg. Pagi itu, dia pun pergi dengan pesan “jaga diri dan kesehatan (ini terus yang diingatkannya, soale saya pingsan beberapa kali di kosan hehehe……), kamu adalah anak yang paling bandel yang pernah kukenal”. Jadi tambah nangis dech hiks hiks hiks…… Dia pun pergi, sisi lain dari hidup saya pun juga pergi dan kembali kosong. Sampai akhirnya…….
4 Responses for "“Mus” dibalik Sunyi"
Dia pun pergi, sisi lain dari hidup saya pun juga pergi dan kembali kosong. Sampai akhirnya…….
ada wie nggak di episode ini?….. :question:
Khan sisi lain…… Sisi lain kehidupan dan hati. Jangan disamakan donk:twisted::twisted: Beda…..semua sudah pada tempatnya masing2.
MENGERTI :mrgreen::mrgreen:
kania…jgn berlebihan dong???aku kan jd malu ne… cuman thanks bgt ya, aku jdi terharu…hiks…hiks… pesanku “kania jgn bandel dong!!!”kerja sih kerja tapi ingat istirahat n jangan telat makan.
@Ka Lina : Nga berlebihan koq. Emang semuanya bener

Aku kehilangan kamu. Kehilangan banget. Sebenarnya waktu kamu bilang pulang dan terus aku denger kabar kamu nikah, aku nga rela. Qeqeqeq…………sahabatku diambil cowok yang namanya Cesar……sebel
Btw, Moga2 tambah bahagia disana, jangan lupa pake KB. Jangan2 ngebuttttt kayak Mba Omi ahahahahaha…………
Leave a reply