5 Apr
Pagi2 sekali sudah bangun, saya tidak bisa tidur tenang hanya karena memikirkan bagaimana tuch bulletin. Jam 6-an saya berangkat ke kantor, tapi kali ini pergi sambas IV. Berharap cemas akan mesin FC. Saat ingin melangkah ke lantai dua, terdengar suara Mas Eko OB dengan GM Plantantions. Saya membatalkan niat untuk naik ke lantai 2 dan menunggu sambil bicara dengan satpam. Sampai saatnya Mas Eko pergi ke dapur, saya menghampiri dan meminta dengan sangat bantuannya. Dan Syukur pada Tuhan *beliau menyelamatkan saya lagi dan lagi *, Mas Eko segera mem-fotocopy bulletin tersebut. Hati ini menjadi sangat gembira. 20 menit berlalu, dan setelah selesai melipat dengan baik dan benar, bergegas membagikan ke meja2 yang ada. Pukul 06.30, saya kembali ke kosan, ambil notebook dan pergi ke kantor di Sambas III. Pak Indra sudah datang, wajah saya lebih bahagia dari hari sebelumnya. Setelah selesai membagikan di kantor sambas III, saya mengirim email ke beberapa orang. Hanya saja, untuk internet sementara ini belum bisa On Line, modem di kantor kena induksi listrik, Maha Karya yang Agung dari Tuhan, hari sebelumnya hujan deras buanget dan petir menyambar-nyambar ;). Jadi kesambar petir dech heheeh………
Hari itu pikiran sudah dipenuhi akan kekhawatiran, dapat nga siy tiket ke Jogja. Karena beberapa hari sebelumnya, tiket kereta ke Jogja sudah habis bis biss……..kerjapun menjadi tidak tenang. Meskipun semua masih aman terkendali waakkakaka…….
Pukul 05.00 pm, saya bergegas pergi dan pamit….karena biasanya tidak pernah pulang cepat. Sampai di kos, saya masih bingung akan kemana saya melangkahkan kaki untuk mencari tiket. Kalau ke terminal lebak bulus dijamin jam segitu sudah nga ada lagi. Tapi harus dicoba. Jam 06.30 saya keluar dari kosan dan secara tidak sengaja bertemu dengan Pak Indra n Bang Alex di depan gerbang :â€>:â€>. Jadi malu…….ternyata mereka mau ke Sambas IV untuk upgrade server. Aduh…..saya lupa akan email tadi. Terlalu banyak yang saya pikirkan, termasuk Dina. Saya lebih mengkhawatirkannya daripada keadaan saya yang tidak mendapatkan tiket. Di depan Blok M, saya naik taxi dan bergegas ke Lebak Bulus. Baru kali ini saya merasakan macetnya Jakarta dan menjadi sangat tidak betah. Saya bersyukur kalau kosan hanya beberapa meter dari kantor. Perjalanan yang muter2 dan perut yang lapar berteriak-teriak minta diisi. Si supir mengambil jalan pintas melewati perumahan PI. Tapi tiap kali akan melewati pintu keluar, palang pintu selalu menjegal. Akhirnya setelah palang pintu kedua, saya mengerti, bahwa Tuhan tidak mengijinkan saya untuk berangkat. Ada kekuatan aneh yang mendesir dan membisikkannya berkali-kali, agar saya tidak berangkat. Di Lebak Bulus sudah malam dan tentu saja saya tidak mendapatkan tiket bis atau apapun kecuali ke Polugadung. Tidaaaaaaaaaaaakkkk……..saya dilarang untuk pergi kesana oleh orang2 sekitar maupun oleh nurani. Akhirnya saya pergi ke Senen, aslinya sudah tau nga mungkin bakal dapat tiket, tapi apa salahnya untuk mencoba. Disini saya 2x bayar tol….. aduh argonya udah buanyak banget dech
:(. Entah ada apa dengan diri saya malam tersebut, ketakutan n kengerian mencekam. Saya benar2 ketakutan, entah saya dibawa kemana dan saya benera2 buta akan daerah ini. Lucu sekali kalau saya mengatakan kalau saya menangis pda saat itu. Saya memikirkan betapa enaknya kalau saya tinggal dan diam di suatu t4, tanpa melihat keruwetan di depan mata dan ketakutan yang menyerang diri. Tapi oleh suatu bisikan, saya tersadar dan hanya harus tenang. Sesampainya di Senen *asli saya lupa mana pintu masuk dll
:D *, pak supir yang baik menunjukkan jalan masuk dan menunggu di luar. Tentu saja Senen sudah ramai minta ampun…..banyak sekali orang bawa ransel besar2, dan biasanya rombongan. Sedangkan saya, selalu sendiri. Saya setengah benci dengan keadaan ini. Saya selalu menghadapi situasi seperti ini sendirian. Tiket ke Jogja habis dan tersedia untuk yang non-seat. Aduh nga dech………setelah kelelahan di kantor saya harus berdiri dikereta dan pastinya penuh sesak…..resiko terlalu besar. Saya kembali dan kepada Pak Suhari *nama tuch supir *, minta diantar ke Gambir. Udah dech saya menyerah, saya berangkat besok pagi aja. Sampai disana, situasi tak berbeda saya temui, penuh dengan orang. Dan ternyata ada banyak orang seperti saya, tidak dapat tiket. Para calo berkeliaran menawarkan tiket 2x lipat. Petugas tiket pun tampak kelelahan. Pertanda lain kalau saya belum diijinkan ke Jogja adalah, tiket kereta untuk Jumat pagi pun telah habis. Mantap ueeyyy……dengan muka yang sedih nga ketulungan, saya menyerah total. Balik ke taxi dan minta diantar pulang. Saya rasa udah cukup jalan2 mengitari kota Jakarta dan saya udah nga tahan. Pingin makan dan duduk tenang merenungkan kejadian hari ini. Dan beberapa hal yang saya abaikan. Sampai kosan, Mba Mus, terkejut melihat saya, koq balik lagi dan blab la…….. Ibu sekeluarga datang dari Gereja, dengan rasa malu saya mengatakan bahwa bulan ini sepertinya saya tidak akan kemana-mana
:(. Sambil duduk di teras *belum masuk kamar, habis berduka di dalam taxi *, saya melihat kalender, dan menyilang dalam hati dan pikiran bahwa Kamis, 17 Mei adalah hari libur panjang……….panjang…….entah Jumatnya masuk atau nga….tapi saya memutuskan untuk libur dari Kamis sampai Minggu. Semoga Jumat merupakan cuti bersama. Jadi tanggal 11 Mei, tiket sudah harus ada di tangan. Uhhh……padahal sudah membuat beberapa janji di Jogja, sehingga semuanya harus dibatalkan. Tiba2 ada sms masuk dan membuat saya lebih kangen lagi dengan Jogja. Anak2 KMHD mengadakan acara “Nyepi Kampus†bulan depan. Saya sebagai alumni KMHD Akakom tentu saja masih mempunyai tanggung jawab moril. Senang rasanya, organisasi ini masih hidup, saya kira udah mati suri. Saya sudah menyebar para spy di kampus wakakakkakaka…………paling tidak saya tau sampai mana kemajuan organisasi yang membesarkan nama saya *sombong nya….. *. Saya pun negoisasi dengan niy anak, namanya Wayan, supaya acaranya dilaksanakan tanggal 19 Mei aja heheheheh……..jadi saya khan bisa nonton. Acaranya berupa Sendratari Kelahiran Rahwana.
Masih dengan Koreografer yang sama, yang selama 7 tahun ini selalu menjadi koreografer pementasan Seni Bali yang diadakan oleh anak KMHD tiap kampus di Jogja. Namanya Tjok De, orang yang paling aktif dalam kegiatan seni dan yah banyak lah kegiatan2 yang diusung atas nama Seni Bali. Saya kira sudah di Bali, ternyata masih betah di Jogja. Padahal sudah lulus November kemaren. Hehheh……koq jadi nyeritain ttg dia ihihihihih……….
Dengan wajah yang masih sedih, saya duduk di teras, sambil menunggu pak duk….dukkk….dukkk….. *ini nama yang kami berikan, anak2 PW14, untuk mereka yang selalu menjual nasi goreng malam2 *, Habis makan, saya melihat keseluruh ruangan dan menjadi bosan karenanya. Dan tidur merupakan pilihan terakhir, saya lelah. Lelah di hati.
Leave a reply