30 Maret, Seharian tadi saya sibuk jalan2 ke beberapa ruangan di kantor, nga cuman di gedung Sambas IV tapi juga di gedung Sambas III. Ada tugas dari bos dan saya janjinya menyelesaikan sore hari sebelumnya, tapi dasar Kania……saya tidak bisa menyelesaikannya. Sebel pada diri sendiri, tadi pagi saya ingin menyelesaikannya. Sudah berjalan 80%, tinggal beberapa orang yang belum di DHCP IP-nya n mailbox belum dipindahkan, mereka yang belum, notabene bener2 sibuk dengan komputernya. Saat saya bilang hal tersebut akan memakan waktu kurang lebih 30 menit, mereka langsung bilang “nanti aja yah, lagi dikejar-kejar deadline” :D, gpp siy, masih ada hari lainnya juga hehheeh…….. Saya seneng dengan jalan2 ini, hampir semua orang baik di Sambas IV ataupun Sambas III sudah saya kenal. Target dalam 1 bulan untuk mengenal mereka semua dan paling tidak pernah berbincang-bincang dengan mereka pun terlaksana. 95% sudah saya kenal n sudah diajak berbincang-bincang. Paling banyak ya guyon khas Kania :D :D. Jadi ketika mengunjungi meja ke meja, atau kalau ada trouble, saya berusaha mengenal mereka dengan lebih baik. Yang mana bisa diajak bercanda n yang mana bener2 serius. Tapi dasar Kania yang nga punya sopan santun, saya tetep ngajak guyon hehehheh…….Tawa sejenak diperlukan untuk merileks-kan otot2 yang tegang :D ;). Itu tips dari saya ;).

Nah pulang tadi setelah nge-blog se-sorean, jam 19.30 saya ke Blok M, kebetulan partner saya juga ke arah yang sama, jadinya kami berangkat bareng n berpisah diperempatan jalan. Saya langsung ke ATM *jujur banget *, ambil uang soale mau beli ATK hiihiihi…..n Sabtu pagi ada undangan dari Mang Asep *salah satu OB *, jadi perlu untuk beli sesuatu ;). Tentu saja tujuan berikut adalah toko buku. PASTI. Bacaan udah habis. Rencana mau nyari bukunya Mario “The Sicillian” atau Agatha Christie. Nah pas masuk n lihat2 di garda depannya, disitu ada sesuatu yang menarik mata ini. Terlihat tulisan “Bali”. Jadi saya mendekati n membaca sampai 2x judul buku tersebut. Ini sebuah Novel kata pengarangnya. Judulnya “ Bali, Surga para Anjing”. Nah tentu saja saya penasaran. Anjing ????? Kenapa ???? Ada apa ???
Saya baca dari sampul yah…… “Sebuah cerita sartire atas keberadaan pulau Bali yang perlahan dan pasti akan dikuasai para anjing”. Saya balik tuch buku n baca ringkasannya.

“ Bali dalam cengkraman terror:berubah menjadi sepi dan menakutkan. Para anjing berambut pirang telah menaklukkan penduduk Bali dalam waktu sekejap. Para Anjing itu bukanlah anjing bodoh dan bidukan. Para anjing itu, anjing cerdas bahkan lebih licik dari manusia. Anjing-anjing itu berasal dari Planet Asing yang terkucil dari Negeri-nya karena hasrat seksual mereka dikekang banyak aturan. Para anjing yang terusir lantas membikin koloni dan menguasai Bali.
Di Bali, erotisme dan ekspresi seksualitas masihlah sangat terbuka. Para anjing itu memanfaatkan Bali untuk mengumbar seksualitas dan menjadikannya surga. Penduduk Bali tak berdaya dengan skenario para anjing. Anjing yang bersenggama di pinggir pantai pun menjadi perhatian, lantas sepasang anjing itu menarikan gerak erotis, para penonton pun terbuai dan tak sadarkan diri bersama orgasme yang menimpa mereka. Pada saat-saat seperti inilah Para Anjing akan membantai penduduk Bali.
Novel ini dengan gaya sartire mengungkap perilaku para anjing yang semakin bebas menari-nari dan menguasai setiap kolong tanah dewata. “

Nah, cukup sekali baca, sudah bikin darah mendidih n naik pitam. Kasar sekali kata2 yang saya baca terutama karena saya memang Orang Bali. Disini “dia” mengatakan bahwa Bali perlahan dan pasti akan dikuasai oleh anjing berbulu pirang *kasar nga ?? * Disini si pengarang memfokuskan pada pembicaraan seksualitas dari para anjing dan bagaimana “kami” menanggapinya. Menonton mereka dalam orgasme n hanyut di dalamnya. Novel siy katanya, tapi koq kayak gitu. Benci ma orang Bule n menyudutkan Bali sebagai surganya para turis untuk melakukan seks bebas, itu yang saya tangkap. Lagian dari sisi kemanusiaan, menyebut manusia lain dengan sebutan anjing ini juga sangat tidak saya sukai. Betapapun kita membenci sesuatu di dunia ini, tapi menyebut manusia lain yang juga ciptaan Tuhan sebagai anjing-anjing, sungguh kasar di telinga ini. Bukannya nga mau nerima kritik, tapi akan lebih baik menulisnya dengan kata yang lebih halus. Kalau orang yang baca seperti saya sifatnya, langsung marah2 khan. Langsung nge-bete-in. Meskipun reaksi pasti beragam, ada yang meneng2 wae n tersenyum, ada yang tertawa, ada yang cuek *itu hanya sebuah tulisan yang nga penting*, ada yang marah2 kayak saya, atau lainnya lagi. Haaahhh…..kreativitas dan kebebasan menulis memang tidak bisa dikekang hhehhe……tapi hendaknya juga memperhatikan perasaan orang yang membacanya. Karena dengan begitu “anda” akan lebih peka dengan pembaca. Karena isi dan paling akhir kepuasaan pembaca yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah karya sastra ;)

Setelah beberapa puluh menit, saya pun pulang dan masih kesal aja dengan itu buku. Pas telepon Dina, diapun agak senewen dengan cerita tersebut. Saya memberitau 3 orang malam tersebut. Reaksi nya beragam.

31 Maret, Saya datang ke kantor dan kumpul dengan teman2 karena akan menghadiri pernikahan Mang Asep. Saya ceritakan tentang buku ini pada teman saya yang juga orang Bali. Hehehhehe……..saya emang bilang dan saya garis bawahi disini, saya belum membaca buku tersebut yaaaa…….tapi udah membuat saya malas siy :D :D. Tapi untuk penyelidikan lebih lanjut * wkakakkkaka…..kayak detektif aja *, setelah datang dari acara nikahan, saya pergi lagi ke GA dan membeli buku tersebut dan bukunya “John Grisham, The Firm” *udah lama banget niy pingin punya tuch buku :D *. Sampai hari ini belum saya baca bukunya. Setelah dari Blok M, saya diajak pergi ke PIM ma Bang Meyer n Mia. Di PIM, agak pusing juga awalnya. Pusing melihat begitu banyak orang dan yah……gitu dech. Seperti kata Bang Meyer, “ Kania, welcome to Jakarta Society” wkakakakka………iya iya yah, sambil tersenyum. Acara keliling dilanjutkan makan2, duh baru dech enakan di hati karena dari tadi lapar dan akhirnya bisa melihat dengan jelas orang2 di sekitar. Tapi waktu di foodcourt, saya sempet tidak mengenali salah satu artis terkenal, saya melihat sekilas dan bertanya ma Mia, “ kayaknya tuch cewek pernah saya lihat”, Mia menjawab “itu khan Mona Ratuliu”…….hehehhe…..ya maaf, lebih cantik di TV soale :D. Acara makan2 berlanjut pembicaraan soal pekerjaan dan lain2. Terlihat jelas pemetaan yang telah saya buat di otak, hasil pengamatan selama ini cocok dengan cerita2 yang sudah saya kumpulkan dari banyak orang. Hehhehe……..masih sok dengan gaya detektif :D. Yup, saya musti tau ttg lebih banyak khan. Nah acara berikut adalah pergi ke “Gramedia” saudara-saudara, hehehee……..senengnya hati ini. Wah bulan depan 2 buku incaran akan terbeli tuch. The Sicillian * Mario Puzo * dan Pembunuhan di Teluk Pixy *Agatha Christie punya *. Ternyata ohh ternyata, Bang Meyer dan Mia sudah sangat lama menunggu saya di pintu masuk Gramedia…..aduh ya maaf, karena saya keasyikan baca :”>:”>:”>. Lanjut ke I Box, disana saya asyik dengan barang2 yang saya lihat, ketika Mia menatap sesuatu tanpa berkedip. Saya guncang anak itu, ternyata matanya terpaku pada Mona dan suaminya. Waduhhh……ternyata mereka ada dibelakang saya, tanpa saya sadari. Setelah asyik melihat-lihat, Bang Meyer dan saya sadar, bahwa Mia tidak ada di ruangan, niy anak emang tidak suka dengan hal2 seperti ini ;). Ya sudah kami keluar dan mengikuti kemana dia pergi. Mulai lihat2 baju, sepatu dan pernak pernik cewek *herannya, saya nga tertarik sama sekali ihihihihihi….. entah kenapa tuch bisa kayak gini *, saya malah asyik ngomongin akuntansi ma bang Meyer sambil tetep mengawasi kemanapun Mia pergi * pyuhhh…..kayak pengawal aja wakakkaka……..*. Sampai di suatu tempat, dimana saya bantu Mia memilih benda2 yang yah…..gimana tuch bilangnya……ada sisir, gelas2 plastik, dan beberapa benda buat anak2 siy :D, mata saya menyapu orang2 yang ada disini, sampai saya melihat Andrew White dengan Nana Mirdad. Nah disini baru bisa dilihat dengan jelas dan dari dekat, soale si suami ada di depan saya ehehehe………wah, cakep aslinya daripada di TV, sedangkan Nana juga cantik aslinya daripada di TV. Sampai akhirnya si suami ada disebelah saya sambil milih2 barang wkakakakaka………..Mia dengan tidak sabar bisik2, minta agar difoto dengan Andrew…..saya menghampiri Bang Meyer yang ada di t4 lain, dan minta dia yang memfoto Mia dengan si artis, Bang Meyer langsung menjawab Tidak :D :D. Mia langsung kami ajak pergi daripada berlama-lama disana. Udah malam dan kami harus pulang. Nah disini ada peristiwa lucu sekali. Badan kami bertiga besar2 tuch, mau naik kancil tapi kancil nga ada yang lewat, akhirnya naik Bajaj. Yang terjadi kemudian adalah bajaj tersebut jalannya pelan sekali, apalagi pas di jalan agak menanjak, kayaknya berat sekali dan capek tuch si bajaj. Kami bertiga di belakang duduknya udah berdesakan, saya nyempil di sisi kanan bajaj, Mia ditengah, dan bang Meyer di sisi kiri :D, kami bertiga terus tertawa terbahak-bahak, karena kayaknya tuch bajaj akan terbalik ke belakang atau akan macet di tengah jalan menanjak :D.
Sungguh menyenangkan tuch jalan2, bukan karena t4nya tapi orang2 yang saya ajak. Saya tidak terlalu focus akan t4 tadi, kecuali pas di Gramedia, I Box dan t4 pameran elektronik. Lainnya saya anggap selingan aja, karena saya menyibukkan bertanya ini n itu ke Bang Meyer ;).
Sampai di kantor, langsung minum air segalon iihihihih……terus duduk dengan para satpam n Bang Meyer nonton Liverpool VS Arsenal. Mantap euuyyy akhirnya bisa nonton Bola :D.

Acara saya hari,setelah bangun kesiangan adalah eng ing enggg……. Ntar sore, Bli Ketut *teman kantor *, akan mengajak saya ke Pura. Duh senang sekali hati ini. Senang, senang, senang dan senang sekali.

Akhirnyaaaaa…………….