Saat sampai di 21, kami merasa sudah telat untuk nonton film yang diputar pada sore hari. Tidak memilih yang malam karena kosan takutnya dah tutup. Setelah melihat film2 yang diputar hari ini, kami memutuskan untuk menonton Blood Diamond. Sebenarnya agak susah menentukan antara film Night at The Museum atau Blood Diamond. Saya sudah lihat review dan membaca analisis kedua film, jadi kami memilih untuk menonton film Blood Diamond. Filmnya dimulai 05.45 pm, jadi masih bisa nonton.
Dan nyatanya memang nga nyesel memilih film ini. Ceritanya bagus dan sampai sekarang masih terkesan. Akting pemainnya keren dech. Leonardo DiCaprio berperan sebagai Danny Archer dan Djimon Hounsou sebagai Salomon Vandy. Cerita ini dilatarbelakangi oleh perang saudara di Sierra Leone, Afrika. Sierra Leone merupakan negara penghasil berlian seperti Liberia. Siapapun sulit mengambil berlian meskipun hanya berlian imut2 heehhe……… Daerah pertambangan di satu sisi dikuasai pemerintah dan disisi lain dikuasai oleh RUF (pemberontak). Berlian juga diminati oleh kartel berlian di Eropa (London) yang biasanya memanfaatkan Danny Archer. RUF memberontak sepertinya tanpa tujuan, menembak sesama warga berkulit hitam. Nga jelas mana kawan dan lawan.Begitu banyak pembunuhan karena perang saudara dan perebutan berlian. Menonton film ini terasa bahwa nyawa manusia amat sangat tidak berati seperti kacang goreng aja. Para pemberontak membunuh penduduk di desa2, para pria dewasa tangannya ada yang dipotong, tubuhnya digantung dan yang kuat dijadikan budak. Anak2 kecil dijadikan tentara. Mereka membunuh seperti iblis, menembaki anak2 dan orang dewasa, bener2 nga punya belas kasihan.
Lanjut ke cerita :D, Salomon Vandy terpisah dari istri dan ketiga anaknya saat desanya diserang oleh RUF, Salomon sendiri akhirnya dijadikan budak pencari berlian untuk dana pembelian senjata oleh RUF. Suatu hari Salomon menemukan berlian besar berwarna merah muda yang disembunyikan di deket sungai tempat mereka mencari berlian, hanya saja hal ini diketahui oleh Kapten RUF (lupa namanya), pada saat Salomon mau ditembak datang tentara pemerintah memborbardir tempat tersebut, akhirnya Salomon dan Sang Kapten dipenjara. Berita ini juga didengar oleh Archer yang satu penjara dengan mereka dan komandannya Kolonel Coetzee. Semuanya memburu Salomon untuk dijadikan penunjuk jalan. Sang Kapten yang telah bebas mencari keluarga Salomon dan mengambil anak tertuanya Dia dan dijadikan tentara RUF. Bagi Archer sendiri berlian merah muda tersebut merupakan jalan keluar baginya untuk lepas dari negara tersebut, sedangkan bagi Salomon berlian tersebut merupakan sarana untuk berkumpul kembali dengan kelurganya, sedangkan bagi si jurnalis Maddy Bowen cerita berlian dan penyelundupannya merupakan hal yang paling menarik saat bertugas meliput peperangan tersebut. Adegan2 yang mengesankan diantaranya saat adegan perang ditengah kota dimana penduduk satu kota dibunuh dalam satu malam dan rumah2 dibakar, mayat berserakan seperti kulit kacang yang ditebar begitu saja di jalanan. Tentara pemerintah digantung dan disiksa. Mengerikan memikirkan jika hal tersebut dilakukan oleh anak yang berumur belasan tahun :(. Setelah membunuh kebiasaan mereka joget2, mabuk2, bersenang-senang dengan wanita……..keji sekali jika mengunakan anak2 sebagai senjata. Menggunakan mereka hanya untuk yang katanya “kebaikan”.Padahal generasi muda yang mungkin akan membawa bangsanya ke arah yang lebih baik, tapi malah kenyataannya sangat berbeda. Mereka memberontak alasannya agar negaranya menjadi baik, tidak ada penderitaan bagi rakyat, tidak ada perbudakan dan bla bla bla……..padahal mereka sendiri membunuh saudara2nya sendiri, menjadikan saudara2nya sebagai budak, membuat kekacauan dimana-mana, menyiksa orang2 dll, dsb, dst, “kebaikan” macam apa yang dibawa pada akhirnya. Terlihat juga kesedihan di kamp pengungsian. Salah satu pengungsian terbesar kedua di negara tersebut, klu nga salah nama daerahnya Guinea * kayaknya siy *, disana ada satu juta lebih pengungsi. Satu hal yang saya ingat yang dikatakan si jurnalis Maddy Bowen(Jennifer Connely) : “satu negara dijadikan pengungsi”…..menyedihkan sekali. Terlihat juga kesibukan badan PBB seperti UNHCR dan WFP. Selain melihat bagaimana keadaan penduduk karena peperangan, film ini juga mengajak penonton menyusuri belantara Sierra Leone, jurang terjal, dan pemandangan yang sangat indah. Adegan lain yang bisa dilihat ketika rombongan panjang pengungsi berjalan merayap, juga aksi Archer dan Salomon mengarungi hutan belantara dierah Kono dekat sungai Sewa
Saya ampe 3x nangis hehehheheh……….. waktu adegan dimana Salomon Vandy bertemu dengan istri dan kedua anaknya di kamp pengungsian, kemudian waktu si Danny Archer meninggalkan dunia yang fana ini, dan terakhir ketika Solomon Vandy naik ke podium untuk memberikan kesaksian di hadapan komunitas dunia tentang keadaan dan kejadian di negaranya.
Film ini sangat layak ditonton, begitu banyak makna hidup yang disampaikan. Keyen dech ;). Salah satunya maknanya adalah “bagaimana sesuatu yang bernilai itu harus diperjuangkan”.